Taksi Putra
Aman & Terpecaya
 

Istanbul

Oleh Mubha Kahar Muang

Kota Istanbul mula-mula dikenal sebagai Byzantium kira-kira pada sekitar tahun 660 SM. Menurut legenda, Raja Byzas dari Megara, sebuah kota dekat Athena, pada permulaan masa ekspansi kolonial Yunani, berlayar ke arah Timur Laut melintasi Laut Aegea sampai ke Bosphorus. Di wilayah itu Raja Byzas  mendirikan kota dan menamakannya Byzantion sesuai dengan namanya. Kota ini menjadi kota niaga karena lokasinya yang strategis sebagai satu-satunya pintu masuk ke Laut Hitam.

Lokasi Byzantium menarik perhatian Kaisar Romawi Konstantinus I yang pada 330 Masehi membangun ulang kota ini.  Konstantinus Kaisar Romawi pertama yang memeluk agama Kristen melihat Byzantium sebagai lokasi yang tepat seorang kaisar untuk bertahta. Dia kemudian memindahkan pusat kekaisaran dan menetapkan Byzantium sebagai ibukota Kekaisaran Timur. Kota ini memiliki pertahanan yang matang, kemudahan akses ke perbatasan, memperoleh suplai dari kebun-kebun yang subur dan bengkel-bengkel yang canggih di Asia. Byzantium kemudian dibangun dengan fasilitas-fasilitas yang layak bagi sebuah kota metropolis kekaisaran. Membuka alun-alun baru di pusat kota, Basilika disebelah Timur alun-alun, Istana Agung  Kaisar, Hippodromos, tempat Pacuan Kuda yang mampu menampung 80.000 penonton, jalan raya yang dipagari jajaran pilar, Gedung  Kehakiman, Gedung Dewan Senat, memperkenalkan koin (solidus emas) yang bernilai tinggi dan stabil, dll.

 

Byzantium adalah  kota penting dalam sejarah. Setelah Kaisar Romawi Konstantin I wafat,  kota ini lalu disebut  sebagai Konstantinopel yang berarti “ Kota Konstantinus”. Konstantinopel menjadi ibukota empat kekaisaran besar yaitu Kekaisaran Romawi (330-395), Kekaisaran Romawi Timur (395-1204 dan 1261-1453), Kekaisaran Latin (1204-1261) dan Kekaisaran Ottoman (1453-1922).

 

Konstantinopel dilukiskan  dalam novel-sejarah “The Female” oleh Paul I Wellman yang  terbit pertama kali pada tahun 1953 bahwa “… tak pernah dalam sejarah ada kota yang bertabiat seperti wanita, dalam kemewahan, tingkah dan kemolekannya dari pada Konstantinopel yang pada tahun 521 Masehi kadang masih disebut orang dengan nama kuno Byzantium. Ia seolah-olah berbaring dalam pelukan tiga kekasih: Bosporus, Propontis dan Tanduk Mas.” Propontis sendiri adalah nama kuno untuk Laut Marmara . Diskripsi ini tentu menggambarkan keagungan dan keindahan Konstantinopel.  Pada bagian Timur berdiri Istana kerajaan,  kompleks orang-orang terhormat,  para bangsawan dan orang kaya, dan  sejumlah bangunan megah lainnya terutama Katedral Santa Sophia. Sementara di bagian Selatan kota berdiri patung Aphrodite,  dewi asmara yang dilukiskan berdiri tegak setengah memejamkan mata tanpa busana. Novel Wellman  bercerita tentang Yustinianus I dan Theodora istrinya. Yustinianus menjadi  Kaisar dari tahun 527 hingga 565 dikenal dengan nama Yustinianus yang Agung.

 

Pada masa kekuasaannya, Yustinianus I berusaha mengembalikan kejayaan kekaisaran dan menaklukkan kembali bagian barat Kekaisaran Romawi dan pemulihan sebagian wilayah Kekaisaran Romawi Barat, termasuk kota Roma. Selain itu, pada masa kekuasaannya pula hukum Romawi  Corpus Juris Civilis ditulis dan masih menjadi dasar bagi hukum masyarakat di negara-negara modern.

 

Keberhasilan Yustinianus I , selain didukung oleh isterinya Theodora yang  walau  berasal bukan dari kalangan atas, tetapi memiliki kemampuan yang luar biasa, cakap bahkan dipercaya melakukan tugas diplomatik,  selain itu sebagai penguasa , Yustinianus  dikenal sebagai  “kaisar yang tidak pernah tidur”, semangat kerja yang tinggi, bersedia menerima nasehat dan mudah didekati. Yustinianus dikelilingi oleh bawahan-bawahan yang berbakat, yang dipilih bukan berdasarkan latar belakang aristokrat, tetapi atas dasar kemampuan.

 

Dengan riwayat panjang seperti itu, mengunjungi Istanbul saat ini, kita akan menemukan jejak perjumpaan peradaban Romawi dan peradaban Islam dengan penanda yang mengagumkan. Nuansa perjumpaan ini sangat terasa, terutama di kota tua dimana jejak kebesaran Konstantinopel masih dapat disaksikan. Sebut misalnya Hagia Sophia atau Basilika St Sophia yang dibangun Kaisar Konstantinus I, awalnya terbakar tahun 404 M. Kemudian bangunan kedua musnah pada peristiwa pemberontakan Nika tahun 532  lalu dibangun kembali oleh Kaisar Yustinianus I dan selesai pada tahun 537 M dan selanjutnya digunakan sebagai Gereja Ortodoks. Selama kurun waktu 900 tahun, sejak tahun 537 hingga 1453 Masehi, Hagia Sophia berfungsi berganti-ganti sebagai gereja Ortodoks Timur dan Gereja Patriarkat Konstantinopel kecuali antara tahun 1204 sampai 1261 tempat ini merupakan Katedral Katolik Roma. Pada tahun 1453 M, ketika Kesultanan Ottoman Turki berkuasa, atas perintah Sultan Mahmet, gereja Ortodoks ini dialihfungsikan menjadi masjid dan pada saat itulah empat buah menara ditambahkan pada bangunan ini. Kemudian pada tahun 1935 Mustafa Kemal Ataturk mengubah status Hagia Sophia menjadi museum.

 

Penyebutan Istanbul untuk Konstantinopel mulai digunakan sejak penaklukan 1453 dan nama kota ini secara resmi menjadi Instanbul pada tahun 1930. Sejarah Istanbul sejak saat itu berada di bawah penguasaan Kesultanan Ottoman atau Kesultanan Utsmaniyah yang pada awalnya merupakan imperium lintas benua dan didirikan oleh suku-suku Turki pada tahun 1299 M di Barat Laut Anatolia. Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmet sebagaimana disebutkan, merupakan awal Kesultanan Ottoman dan mencapai puncak kejayaan dengan ibukota Konstantinopel pada abad ke 16 dan 17 di bawah pemerintahan Sulaeman Agung. Pada tahun 1478 oleh Sultan Mahmet kemudian dibangun Istana Topkapi, kompleks istana yang terdiri dari empat lapangan utama dan bangunan-bangunan kecil di sekitarnya. Selama kurang lebih 400 tahun Istana ini menjadi Istana Sultan Ottoman. Dan saat ini difungsikan sebagai museum  yang pada salah satu bagian Istana Topkapi, di Paviliun Relikui Suci tersimpan relikui (barang peninggalan orang suci yang dianggap berharga) peninggalan Nabi Muhammad seperti jubah, stempel, pedang dan cetakan tapak kaki. Juga benda-benda milik para Khalifah Abubakar, Umar, Utsman dan Ali.

 

Kesultanan Ottoman berakhir ketika Kemal Ataturk mencanangkan gerakan sekularisasi yaitu pemisahaan agama dari penyelenggaraan negara dan mendirikan Republik Turki pada tahun 1922. Langkah Ataturk ini dipandang sebagai awal Istanbul moderen sebagaimana yang kita kenal hari ini. Kota moderen yang memiliki sejarah panjang.

 

Meski kota-kota penting dunia memiliki sejarahnya masing-masing, tetapi Istanbul adalah salah satu kota yang ditakdirkan menjadi penghubung sekaligus pertemuan kebudayaan Barat dan Timur. Hal ini dimungkinkan karena Istanbul memang terletak di dua benua, Asia dan Eropa, yang dibelah oleh Selat Bosphorus. Penghubung dan pertemuan yang telah mengukir sejarah dengan jejak yang masih hadir dan menjadi bahan pembentuk Istanbul hari ini.

Orhan Pamuk, sastrawan Turki Pemenang Nobel tahun 2006 dalam Memories of a City (2005) menulis: “Menjelajahi kota yang begitu hebat dan sarat sejarah seperti Istanbul, kita sekaligus merasakan kebebasan lautan yang terbuka – itulah asyiknya perjalanan sepanjang Bosphorus. Didorong aliran airnya yang kuat, disemangati udara laut yang tak tercemar, sang pejalan akan merasakan bahwa inilah tempat untuk menikmati kesendirian dan menemukan kebebasan.” Sebuah ungkapan yang menggambarkan bahwa sebuah kota tidak hanya sebagai sebuah ruang hunian, tetapi juga wilayah personal, terutama bagi warganya, untuk menemukan diri dan kebebasannya. Tentu saja melalui penanda-penanda penting yang ada di kota tersebut: gedung-gedung, monumen, alun-alun, ruas jalan, museum, taman dan seterusnya yang akan menjadi pusat ingatan dan rujukan, termasuk sejarah yang membentuknya. ***

 

Jakarta, 22 Januari 2015

 

 

pilih artikel