Taksi Putra
Aman & Terpecaya
 

Marakesh Maroko

Oleh Mubha Kahar Muang

Maroko adalah negara yang berada di Afrika Utara, dengan bentuk pemerintahan kerajaan konstitusional, dengan parlemen yang dipilih rakyat melalui pemilihan umum. Konstitusi Maroko menetapkan, Maroko adalah negara kerajaan dengan parlemen dan pengadilan yang independen. Raja memimpin Dewan Menteri dan menunjuk Perdana Menteri. Dalam konstitusi negara ini juga diatur bahwa raja dapat memberhentikan Menteri,  menyelenggarakan pemilu, menunda konstitusi, dan mengeluarkan dekrit. Raja adalah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. Raja memiliki kewenangan membubarkan parlemen setelah berkonsultasi dengan pemimpin dua kamar di parlemen yaitu Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Konsuler.

 

Penduduk asli Maroko adalah suku Berber, suku asli Afrika Utara, bagian timur Lembah Nil, yang kemudian menyebar melalui Samudra Atlantik hingga Mesir dan dari Laut Mediterania hingga Sungai Niger. Suku ini terbanyak yang mendiami Maroko. Istilah Berber berasal dari bahasa Arab untuk sebutan suku dari Afrika Utara tersebut. Namun, bangsa Yunani kuno menyebut bangsa Berber sebagai bangsa Libya, kemudian bangsa  Romawi menyebutnya Bangsa Mauri atau Bangsa Numidia dan pada abad pertengahan Eropa bangsa Berber disebut sebagai bangsa Moor.

 

Sebutan Maroko berasal dari bahasa Arab yaitu Maghribi yang berarti Negeri Matahari Terbenam. Dinamakan demikian mungkin karena letaknya yang menghadap ke Barat. Sebagaimana diketahui, pada bagian timur, Maroko berbatasan dengan Algeria, sebelah barat adalah Samudra Atlantik, bagian utara dengan Spanyol tetapi di batasi oleh Selat Gibraltar, selat yang menghubungkan antara Samudra Atlantik dengan Laut Mediterania.

 

Maroko sebelumnya diperintah oleh delapan dinasti, mulai dari Dinasti Idrisid pada tahun 788,  kemudian Dinasti Fatimid, Almoravide, Almohade, Marinid, Wattasid, Saadi dan Dinasti Alaouite yang berakhir pada tahun 1912.  Kemudian Maroko berada di bawah jajahan Perancis dari tahun 1912-1956. Perubahan gelar Sultan menjadi raja di mulai pada tahun 1957. Yang menarik adalah bendera Maroko saat ini yaitu bintang berwarna hijau dengan latar belakang berwarna merah segi empat panjang telah mengalami perubahan bentuk sebanyak delapan kali mulai dari Dinasti Idrisid hingga merdeka dari Perancis tanggal 2 Maret 1956.

 

Ekspansi Islam ke Maroko dimulai ketika Maroko ditaklukkan oleh Musa bin Nusair al Walid I bin Abdul Malik tahun 705- 715, khalifah keenam Dinasti Umayyah. Tariq bin Ziyad seorang jenderal yang diangkat oleh Musa bin Nusair kemudian memerintah Maroko. Musa bin Nusair lalu menyeberangi selat antara Maroko dan Eropa dan mendarat di sebuah gunung yang lantas dikenal sebagai Jabal Tariq dan kemudian dikenal sebagai Gibraltar. Ekspansi Tariq kemudian berlanjut ke Spanyol (Andalusia) yang menjadi pintu gerbang masuknya Islam ke Eropa.

 

Sejarah panjang bangsa Maroko, sebagaimana disebutkan secara ringkas di atas, dapat dilacak di Marakesh, kota ketiga terbesar negeri ini. Terletak di sisi barat lereng pegunungan Atlas, kota ini memang menyimpan riwayat sebuah bangsa yang dibangun di atas landasan peradaban Arab Afrika,  yang kemudian diselimuti nuansa Eropa yang kental terutama Perancis karena seperti diketahui Maroko pernah dijajah oleh Portugis, Perancis dan Spanyol. Dalam kehidupan sehari-hari tampak sikap warga yang terbuka terhadap pendatang, toleran dan ramah, namun mereka tetap mengekpresikan diri sebagai pewaris peradaban Islam pada satu sisi, tetapi kental dengan gaya Eropa moderen. Mereka umumnya bertutur dalam bahasa Arab dan Perancis.

 

Mengunjungi Marakesh bersama kota-kota Maroko yang amat terkenal seperti Casablanca dan Rabat terasa sekali perbedaannya. Rabat yang menjadi ibukota negara, benar-benar merupakan pencerminan paduan dunia moderen dengan dunia lama dari bangsa Berber yang hidup nomad. Kota ini tampak sebagaimana umumnya kota-kota di Timur Tengah yang modern.  Sementara itu, kota Casablanca telah lama menjadi kota turis ramai oleh hiruk pikuk kehidupan pelancongan karena berada persis di bibir pantai Atlantik. Kota ini menjadi sangat populer lewat film “Casablanca” yang dibintangi Ingrid Bergman pada tahun 50-an. Sementara itu, Marakesh, dapat dipandang masih lebih kental menyimpan kekayaan lama dan peninggalan sejarah bangsa Berber lewat arsitektur bernuansa Islam yang terawat dengan baik.

 

Terletak kurang lebih 400 km arah selatan ibukota Rabat, Marakesh dapat dicapai dari Casablanca kurang lebih sekitar 3 jam. Belakangan lalulintas transportasi ke kota yang pernah menjadi ibukota kerajaan Maghribi, Mourabitun, pada abad ke-11 ini, semakin lancar karena kunjungan turis yang makin tinggi menyusul perubahan kota ini menjadi kota internasional. Konferensi penting menjadi titik kesepakatan dunia mengenai perdagangan bebas melalui World Trade Organization (WTO) berlangsung di kota ini pada tahun 1994. Hal ini pulalah agaknya yang menjadikan Marakesh sebagai kota penyelenggaraan konferensi-konferensi internasional yang penting saat ini. Selain itu, eksotika sejarah tercermin dalam paduan arsitektur lama dan moderen yang menjadi ciri khas Marakesh. Kota ini juga dijuluki kota merah karena bangunan- bangunan bersejarah umumnya berwarna merah sehingga membuat kota berwarna merah. Selain itu, posisi geografisnya yang berada di lereng Pengununan Atlas menghadap Atlantik, dan berada pada ketinggian dengan iklim sub-sahara yang relatif hangat sepanjang tahun, menjadikannya tempat liburan musim panas yang menarik turis dari Eropa.

 

Salah satu simbol kota Marakesh adalah Masjid Koutoubia yang di bangun oleh Abd al Mumin dan diselesaikan oleh Yakub al Mansur pada tahun 1184-1189. Masjid ini disebut Koutoubia karena lokasi tempat masjid dibangun adalah tempat penjualan buku atau koutoub, warna masjid adalah pink dari batu pasir, menara masjid hanya satu tingginya 77 meter,  warna menara tampak berubah jika terkena sinar matahari, pada puncak menara terdapat tiga susun bulatan berbentuk globe dimana ukuran terbesar paling bawah, kemudian ukuran sedang ditengah dan  terkecil paling atas, terbuat dari leburan perhiasan emas yang konon milik isteri Yakub al Mansur. Masjid Koutoubia dikelilingi kurang lebih 200 toko buku.

 

Selanjutnya yang menarik adalah Benteng terletak di tengah kota yang panjangnya kurang lebih lima belas kilometer. Benteng ini mulai di bangun  tahun 1126 oleh Ali Ibn Yusuf  pada masa pemerintahan Dinasti Almoravide yang dimaksudkan untuk menahan serangan musuh, tinggi gerbangnya adalah 5-9 meter terbuat dari tanah liat dan kapur campuran tabiah atau sejenis lumpur berwarnah merah sehingga benteng berwarna merah. Benteng tersebut memiliki empat belas pintu gerbang menuju kota tua Medina, kota yang bebas polusi karena kendaraan bermotor tidak diperkenankan memasuki kota tua tersebut, sehingga dijuluki kota bebas kendaraan bermotor terbesar di dunia.

 

 

 

Place Djemaa El-Fna yang memiliki tiga square yang dulunya digunakan untuk mengeksekusi penjahat dan sekarang digunakan sebagai pasar tradisional yang menawarkan mulai dari keramik, buah-buahan dan berbagai corak perhiasan logam, juga wangi-wangian yang diracik dari tumbuh-tumbuhan khas Pegunungan Atlas. Berikutnya, Masjid El-Mansouria yang di bangun tahun 1185-1190, menara masjid tersebut didekorasi dengan gaya mirip tembikar khas Maroko dan dihiasi dengan glasir timbal berwarna biru cerah.Yang menarik lainnya adalah Istana Bahia dibangun  tahun 1894-1900 ,  istana ini dipenuhi dengan dekorasi bergaya Majolica, atau desain tembikar khas Maroko, semua pintu dan jendela terbuat dari ukiran-ukiran kayu cedar yang halus, indah dan harum.

 

Salah satu penyelenggaran wisata yang menarik ialah penyelenggaraan event pesta di tenda-tenda di luar kota. Acara makan malam duduk di hamparan tenda pada lapangan yang amat luas, menikmati santap malam khas Berber. Para tamu disuguhi tontotan atraksi ketangkasan berkuda, permainan polo dan tarian khas Arab, ditutup dengan sajian khas tari perut yang dikenal di Timur Tengah, tetapi karena jarak pandang penonton dan penari terlalu jauh sehingga yang nampak seakan boneka Barbie saja. Hal ini menandakan bahwa kebiasaan-kebiasaan lama yang merupakan tradisi dan budaya orang-orang Marakesh tetap dipertahankan tetapi dikemas untuk menjadi suguhan menarik  bagi para pengunjung.

 

Sebagai kota yang tetap mempertahankan kekhasan tradisionalnya dan mengadaptasikan diri dengan dunia moderen, Marakesh memang merupakan contoh yang sangat menarik. Warga yang umumnya berbahasa Arab, Perancis dan Berber,  arsitektur yang menjadi lambang kejayaan Islam, dan usaha keras untuk menjadi kota penting dunia, telah membuat Marakesh menjadi kota yang menjadi ikon Maroko setelah Casablanca yang terkenal itu.

 

 

Jakarta, 6 April 2010

 

 

pilih artikel